Prinsip Utama
Versi 4.1 (27 September 2026): Panduan lintas model. Catatan model yang diperiksa pada versi 4.0 tetap ada di references/model-coverage.md; catatan itu bersifat historis, bukan klaim bahwa pola bahasa tertentu milik model tertentu.
Tulisan generik sering terasa aman, berulang, atau kurang terikat pada konteks. Revisi untuk memperjelas maksud, menambah detail yang memang tersedia, dan mempertahankan suara serta tujuan penulis. Jangan menganggap ketidaksempurnaan buatan sebagai bukti keaslian.
Panduan ini membantu menghasilkan tulisan yang jelas, spesifik, dan sesuai konteks. Variasi kalimat atau pilihan kata bukan cara yang terjamin untuk mengubah hasil detektor AI. Detektor bisa salah mengklasifikasikan teks manusia maupun teks berbantuan AI; jangan menjanjikan hasil tertentu.
Aturan lintas model
Tidak ada daftar ciri gaya yang berlaku pasti untuk semua versi atau semua jenis tugas. Model, pengaturan, prompt, dan konteks bisa mengubah hasil. Perlakukan pemeriksaan berikut sebagai heuristik editorial, bukan sidik jari yang terbukti secara statistik: cek apakah kalimat pembuka dan panjang kalimat terlalu berulang; apakah draf memakai kontras, daftar, transisi, atau ringkasan yang sama berulang kali; dan apakah kata-kata abstrak menggantikan fakta atau tindakan. Ubah hanya bagian yang mengganggu kejelasan, akurasi, atau suara yang diminta.
Saat menyunting, gunakan references/vocabulary-banlist.md dan references/structural-patterns.md sebagai pemicu pemeriksaan, bukan larangan tanpa konteks. Untuk keputusan tata bahasa dan ejaan Indonesia, ikuti rute ringkas di references/language-editing.md.
Pilih Tier Tone Dulu
Orang Indonesia nulis di tiga register yang cukup beda. Sebelum nulis, tentuin tier-nya. Default: semi-formal (kalau user nggak bilang apa-apa).
Tier 1: Formal
Untuk makalah akademis, laporan resmi, skripsi/tesis, dokumen kantor, dan jurnalisme. Kata ganti: saya, Anda (atau impersonal: peneliti, penulis). Utamakan bentuk lengkap seperti tidak. Partikel wacana (sih, dong, kan) dan code-switching ID-EN biasanya dihindari kecuali sesuai kutipan atau pedoman.
Contoh kalimat formal:
- "Kenaikan UMP 6,5 persen tahun lalu belum otomatis memperbaiki daya beli kelas menengah."
- "Penelitian ini mengambil sampel dari 142 responden di Jakarta Selatan."
Tier 2: Semi-formal (DEFAULT)
Untuk artikel blog, esai opini, konten LinkedIn, newsletter, feature majalah, Medium ID. Kata ganti: saya/aku, kamu (bukan Anda). Kontraksi: sesekali boleh (nggak, udah). Partikel wacana: boleh sesekali (sih, kan, kok). Code-switching ID-EN: boleh kalau lazim di domain (meeting, deadline, framework).
Contoh kalimat semi-formal natural:
- "Gaji naik 6,5 persen, tapi harga beras naik 12 persen. Jadi ya, daya beli nggak benar-benar membaik."
- "Aku sempat mikir framework ini terlalu ribet, sampai kebanting deadline dan baru ngeh fungsinya."
Tier 3: Informal
Untuk Twitter/X thread, Instagram caption, WhatsApp Story, blog personal santai, podcast transcript, konten TikTok. Kata ganti: aku, gw/gue, kamu, lo/lu (konsisten dalam satu tulisan, jangan gonta-ganti). Kontraksi: bebas (nggak, udah, gimana, emang, aja). Partikel wacana: wajar dan natural (sih, dong, deh, lho, kan, kok, nih, tuh). Code-switching ID-EN: bebas kalau memang pattern anak muda (literally, which is, somehow).
Contoh kalimat informal natural:
- "Gaji naik 6,5 persen tapi harga beras naik 12 persen, jadi ya gitu deh. Nggak ngerasa lebih kaya sih."
- "Gw baru ngeh framework ini gunanya banyak, after kebanting deadline dua kali. Literally life-saver."
Aturan Lintas Tier
Jaga register sesuai audiens. Pergeseran kecil boleh muncul jika memang cocok, tetapi jangan menyisipkan slang, humor, atau kalimat blak-blakan hanya untuk menciptakan kesan autentik.
Preferensi Tanda Baca: Hindari Dash Secara Default
Untuk prosa baru, hindari em dash (—) dan en dash (–) secara default karena repo ini memilih tanda baca yang lebih lazim dalam prosa Bahasa Indonesia. Ikuti kutipan sumber, format, atau instruksi eksplisit pengguna bila perlu mempertahankan dash.
Pilih tanda baca berdasarkan fungsi dan gaya yang diminta. Jika em dash atau en dash tidak cocok untuk audiens atau terasa berlebihan dalam draf, ganti dengan tanda baca yang lebih jelas. Keberadaan atau ketiadaan tanda baca tertentu bukan bukti siapa yang menulis teks.
Ganti dash dengan:
- Titik (pecah jadi dua kalimat)
- Koma (kalau masih satu alur pikiran)
- Titik koma (kalau dua klausa setara, tapi pakai hemat)
- Titik dua (kalau mau nunjuk ke definisi/penjelasan setelahnya)
- Tanda kurung (kalau informasi tambahan yang bisa dilompati)
Contoh konversi:
- AI: "Pendekatan ini efektif — terutama di konteks perkotaan."
- Natural: "Pendekatan ini efektif. Terutama di konteks perkotaan." (titik)
- Natural: "Pendekatan ini efektif, terutama di konteks perkotaan." (koma)
- Natural: "Pendekatan ini efektif (terutama di konteks perkotaan)." (kurung)
Khusus untuk rentang angka/tanggal, tulis dengan kata "sampai" atau gunakan format angka biasa: "2020 sampai 2025", "halaman 10-15" (pakai hyphen biasa, bukan en dash).
Di post-generation checklist, tinjau dash (em dan en) dan hindari secara default pada prosa baru. Pertahankan jika termasuk kutipan atau diperlukan oleh format dan gaya yang diminta.
Aturan Kosakata
Daftar Pola untuk Ditinjau
Daftar ini berisi pemicu editorial, bukan larangan gramatikal. Pertahankan kata atau struktur jika maknanya tepat, diperlukan oleh bidang/format, bagian dari kutipan, atau sesuai suara penulis. Jangan mengganti secara mekanis.
Penggelembung kepentingan: sangat penting, sangat krusial, sangat signifikan, sangat relevan, fundamental (sebagai pujian samar), luar biasa (sebagai pujian generik), mendalam (tanpa detail konkret), berarti / bermakna (sebagai pujian samar)
Kata kerja analitis yang sering bisa dibuat lebih konkret: menyoroti, menggarisbawahi, memfasilitasi, mengoptimalkan, mengedepankan, mewujudkan, merealisasikan, menyelami. Ganti jika kata kerja langsung lebih akurat. Untuk penggantian: memanfaatkan → "menggunakan" hanya ketika artinya "to use"; pertahankan "memanfaatkan" ketika artinya "mengambil manfaat dari" | mengimplementasikan → "menerapkan" | berkontribusi pada → sebutkan tindakan dan hasilnya yang konkret | berperan dalam → sebutkan tindakan spesifik secara langsung
Kata penghubung formal yang harus diganti: selain itu → "juga" | di sisi lain → "namun" atau "tapi" (sesuaikan register) | lebih lanjut → susun ulang atau hilangkan | dengan demikian → "jadi" | oleh karena itu → "jadi" atau "karena itu" | tak kalah penting → nyatakan apa yang ada | menariknya → mulai dengan faktanya | sehubungan dengan hal tersebut → susun ulang | berkaitan dengan hal ini → spesifik tentang apa yang dimaksud | dalam hal ini → jelaskan apa maksud "ini"
Pembuka/penutup klise: "Di era modern ini," | "Dalam konteks [X] yang semakin [Y]," | "Seiring perkembangan zaman," | "Perlu diketahui bahwa" | "Penting untuk diingat" | "Sebagai kesimpulan," | "Dapat disimpulkan bahwa" | "Dengan demikian, dapat disimpulkan" | "Pada akhirnya," | "Perlu kita sadari bersama" | "Tidak dapat dipungkiri"
Penghindaran kopula: merupakan → lebih suka "adalah" atau susun ulang langsung | berperan sebagai → gunakan "adalah" hanya untuk pernyataan identitas, sebaliknya gunakan kata kerja konkret | berfungsi sebagai → gunakan "berfungsi untuk" untuk pernyataan tujuan | memiliki peran penting → nyatakan peran yang tepat | menjadi salah satu... → kuantifikasi secara langsung | "menjadi [X] yang [Y] dalam/bagi [Z]" → nyatakan secara langsung
Atribusi samar: "para ahli menyatakan" → sebutkan namanya | "penelitian menunjukkan" → sebutkan penelitiannya | "banyak kalangan berpendapat" → sebutkan siapa | "menurut beberapa sumber" → sebutkan sumbernya | "studi menunjukkan" → studi mana, kapan, oleh siapa? | "komunitas ilmiah sepakat" → siapa secara spesifik?
Frasa promosi: "memiliki komitmen untuk" | "memberikan dampak positif" | "dalam rangka [tujuan]" | "dalam upaya [X]" | "guna meningkatkan" | "berkontribusi pada kemajuan" | "membangun sinergi" | "memiliki potensi besar" | "menjadi landasan penting" | "menjadi sorotan utama" | "tidak bisa dipandang sebelah mata" | "memberikan kontribusi yang signifikan"
Kata sifat promosi (puffery): komprehensif, holistik, inovatif, dinamis, inklusif, berbagai macam (sebagai pengisi samar), beragam (sebagai pengisi samar), terkini (tanpa tanggal), kolaboratif, berkelanjutan (sebagai buzzword)
Istilah abstrak untuk ditinjau: transformasi digital, ekosistem (figuratif), paradigma, optimalisasi, sinergi, lanskap (kalke dari "landscape"), kompleksitas (tanpa menjelaskan apa yang rumit), dinamika (tanpa menjelaskan apa yang berubah). Pertahankan istilah yang punya makna khusus dalam konteks.
Frasa pengisi AI yang umum (potong atau ganti): "memainkan peran [penting/krusial/kunci]" → nyatakan tindakannya langsung | "dalam hal ini" → spesifik tentang apa | "dalam rangka untuk" → "untuk" | "berbagai macam" → sebutkan apa saja | "tidak perlu dikatakan" → potong | "sudah jelas bahwa" → potong | "lebih sering daripada tidak" → "biasanya" atau beri angka | "dalam beberapa tahun terakhir" → berikan tahun atau rentang waktu yang sebenarnya | "hal ini menunjukkan betapa pentingnya" → nyatakan faktanya | "mari kita telusuri lebih dalam" → langsung bahas | "tantangan dan peluang" → sebutkan masalah atau manfaat spesifik, jangan pasangkan
Pasangan formulaik AI (jangan gunakan bersama): "tantangan dan peluang" | "di satu sisi... di sisi lain..." | "meskipun demikian... namun perlu diingat bahwa" | "kelebihan dan kekurangan"
Hedging berlebihan: "meskipun demikian" → hapus atau ganti dengan "tapi" | "namun perlu diingat bahwa" → potong | "bisa jadi diargumentasikan bahwa" → ambil posisi | "ada baiknya jika" → nyatakan langsung
Penutup atau pembuka chat untuk ditinjau: "Semoga membantu!" | "Tentu saja!" | "Baik, berikut adalah..." | "Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?" | "Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya." | "Sebagai AI, saya...". Gunakan bila memang sesuai dengan interaksi, format, dan permintaan.
Frasa yang sering terasa sebagai pengisi: "memastikan" tanpa menjelaskan tindakan | "berperan penting dalam membentuk" | "mencerminkan / menunjukkan / mendukung" tanpa bukti atau makna yang jelas | "mampu untuk X" ketika kata kerja langsung cukup | "pada intinya" / "pada dasarnya" / "secara fundamental" | intensifier tanpa ukuran ("secara signifikan", "secara efektif", "semakin") | "satu hal yang pasti" / "satu hal yang jelas" | "intinya adalah" | "ketegangan inheren" | "ini memunculkan pertanyaan penting tentang" | tumpukan kata pembatas seperti "biasanya", "sering kali", "umumnya", "berpotensi", "terkadang". Pertahankan frasa yang diperlukan; sunting hanya jika fungsinya kabur atau berulang.
Strategi Penggantian
Pakai kata pendek yang umum bila maknanya tetap tepat. Jangan cuma cari sinonim; susun ulang kalimat agar menyampaikan maksud tanpa mengisi ruang.
Di tier semi-formal dan informal, pakai kontraksi percakapan: "nggak" bukan "tidak", "udah" bukan "sudah", "gimana" bukan "bagaimana", "bikin" bukan "membuat", "emang" bukan "memang", "aja" bukan "saja". Di tier formal, pertahankan bentuk lengkap.
Aturan Struktur
1. Variasikan Panjang Kalimat Secara Dramatis
Variasikan panjang dan struktur kalimat kalau itu membantu alur dan penekanan. Jangan memaksakan fragmen, kalimat panjang, atau pola selang-seling demi terlihat "manusia". Baca ulang untuk memastikan ritmenya enak dan maknanya tetap jelas.
Periksa pembuka kalimat. Jika beberapa kalimat berdekatan memakai pembuka yang sama, variasikan bila perubahan itu membuat alur lebih enak dibaca.
2. Pecah Aturan Tiga
Pilih jumlah butir daftar sesuai isi dan kebutuhan pembaca. Jangan menambah atau menghapus butir demi pola tertentu.
3. Matikan Parallelisme Negatif
Hindari pola "Bukan hanya X, tetapi Y" atau "Tidak hanya X, tetapi juga Y" jika pengulangan bentuknya membuat prosa terasa formulaik. Gunakan ketika kontrasnya memang penting.
4. Matikan Rentang Palsu
Jangan pernah tulis "dari X hingga Y" sebagai spektrum figuratif samar ("dari pertemuan intim hingga gerakan global"). Gunakan "dari X hingga Y" hanya untuk rentang yang benar-benar dapat dikuantifikasi dengan titik tengah yang dapat diidentifikasi.
5. Hindari Penutup Formulaik
Jangan pernah akhiri dengan "Tantangan dan Prospek Masa Depan". Jangan pernah tulis "Meski memiliki [kata positif], [subjek] menghadapi tantangan...". Jangan sertakan paragraf "Prospek Masa Depan" yang spekulatif.
6. Jangan Sisipan Partisipatif di Akhir Kalimat
Periksa klausa tempelan seperti ", yang menyoroti pentingnya..." atau ", menggarisbawahi signifikansi...". Hapus jika tidak menambah informasi; jika penting, susun ulang agar hubungan antargagasan jelas.
7. Jangan Ringkasan Kompulsif
Jangan pernah mulai paragraf dengan "Secara keseluruhan," "Sebagai kesimpulan," "Singkatnya," "Untuk merangkum." Kalau teks butuh kesimpulan, buat dia ngomong sesuatu yang baru.
8. Ritme Paragraf
Pilih panjang paragraf sesuai hubungan antargagasan dan format yang diminta. Gabungkan paragraf yang terlalu terpecah jika satu gagasan terpotong; pecah paragraf padat saat pembaca perlu jeda. Jangan memaksakan jumlah kalimat tertentu.
9. Jangan Daftar Vertikal dengan Header Tebal
Lebih baik prosa daripada daftar poin-poin dengan header tebal yang diikuti titik dua. Ketika daftar benar-benar diperlukan, jaga tetap sederhana. Tanpa header tebal, tanpa deskripsi yang dipisah titik dua.
10. Hindari Dash secara Default
Dalam prosa baru, pilih titik, koma, titik dua, titik koma, atau tanda kurung. Pertahankan dash jika termasuk kutipan, nama, rentang, format, atau gaya yang diminta.
11. Variasikan Tipe Kalimat, Bukan Hanya Panjangnya
Gunakan pertanyaan, perintah, atau fragmen bila format dan suara penulis mendukungnya. Jangan menambahkannya semata-mata agar tulisan tampak lebih manusiawi.
12. Pecah Prediktabilitas Tingkat Paragraf
Pilih pembuka paragraf yang paling membantu pembaca. Ubah susunan klaim, bukti, dan implikasi bila terasa berulang; jangan menyembunyikan konteks atau memotong kesimpulan yang dibutuhkan.
13. Variasikan Kedalaman Sintaktis
Variasikan struktur kalimat bila membantu alur. Campurkan klausa sederhana dan kompleks sesuai isi; jangan memaksakan ayunan antara dua ekstrem.
14. Pilih Kata Fungsi Sesuai Konteks
Pilih kata penghubung, preposisi, dan partikel sesuai makna serta register. Variasi boleh membuat kalimat lebih luwes, tetapi jangan mengganti kata hanya demi mengejar dugaan sinyal detektor.
15. Pilih Kosakata yang Tepat
Keragaman kosakata bergantung pada topik, panjang teks, genre, dan penulis; jangan memakai rasio tipe-token sebagai ukuran keaslian atau alasan untuk mencampur register. Gunakan istilah domain, bahasa daerah, atau ungkapan figuratif hanya bila didukung bahan dan cocok dengan suara penulis. Hindari siklus sinonim jika justru mengaburkan istilah yang konsisten.
Aturan Struktur Khas Indonesia
BI-1. Jangan Heading "Kesimpulan" Otomatis
Pakai bagian "Kesimpulan" cuma kalau genre-nya memang ngharusin (contoh: makalah akademis, laporan formal, dokumen kepatuhan). Buat esai, artikel, dan tulisan santai, tutup dalam prosa aja.
BI-2. Jangan Pembuka Temporal
Jangan pernah mulai dengan "Di era modern ini," "Seiring perkembangan zaman," atau "Dalam konteks X yang semakin Y." Mulai dengan fakta spesifik, angka, atau adegan.
BI-3. Batasi "Tidak Hanya...Tetapi Juga"
Pertahankan cuma ketika kontras benar-benar diperlukan dan menambah makna baru. Kalau nggak, nyatakan apa sesuatu itu secara langsung.
BI-4. Jangan "Merupakan Salah Satu X yang Paling Y"
Pernyataan kepentingan tanpa bukti. Kuantifikasi atau bandingkan secara spesifik sebagai gantinya.
BI-5. Jangan Template "Di Sisi Lain, Terdapat Tantangan"
Sebutkan masalah konkret, dan kalau memungkinkan, sertakan angka.
BI-6. Jangan Padding "Dapat Dilihat Bahwa"
Hapus "dapat dilihat bahwa," "dapat dipahami bahwa," "perlu dipahami bahwa." Nyatakan temuannya.
BI-7. Hindari "Di Mana" sebagai Kata Ganti Relatif
Tulis ulang "program di mana peserta akan..." menjadi "program yang..." atau kalimat langsung jika terdengar seperti terjemahan harfiah. "Di mana" tetap tepat untuk menunjukkan lokasi atau konteks tempat.
BI-8. Lebih Suka Kata Kerja daripada Nominalisasi
Frasa nomina panjang dapat terasa birokratis bila verba langsung menyatakan tindakan yang sama, misalnya "melaksanakan pelatihan" menjadi "melatih". Namun, jangan menghapus objek atau konsep: "mengembangkan kapasitas" tetap perlu menyebut kapasitas. Tinjau konstruksi seperti "melakukan implementasi" menurut konteks; jangan menganggapnya ciri model tertentu.
BI-9. Jangan Pasangan Formulaik "Tantangan dan Peluang"
AI suka masangin "tantangan dan peluang," "kelebihan dan kekurangan," "di satu sisi... di sisi lain..." Sebutkan masalah spesifik ATAU manfaat spesifik. Jangan pasangkan secara refleks.
BI-10. Hindari Keseragaman Pasif (dua arah)
Rangkaian kalimat pasif seperti "Hal ini dilakukan..." atau "Perlu ditekankan..." bisa terasa berulang. Tinjau apakah kalimat aktif, pasif, atau pasif prokletik paling sesuai dengan fokusnya.
Pakai aktif atau pasif berdasarkan fokus kalimat. Dalam Bahasa Indonesia, bentuk pasif dan pasif prokletik sering terasa wajar ketika objek lebih penting daripada pelaku. Jangan menghindari pasif hanya karena mengira detektor menandainya.
BI-11. Jangan Kalke Hook Dua Klausa Simetris
Kontras dua klausa seperti "Banyak orang mengira X. Kenyataannya Y" bisa efektif, tetapi terasa formulaik jika dipakai berulang. Pilih pembuka yang cocok dengan materi dan format.
BI-12. Jangan Repetisi Kata Kunci Prompt
Periksa apakah istilah dari instruksi diulang sampai terasa tidak alami. Ulangi istilah yang memang dibutuhkan demi kejelasan; variasikan penyebutan hanya jika sinonimnya tetap akurat.
Cakupan Model (versi 4.0)
Skill ini mendukung ChatGPT/OpenAI, Claude/Anthropic, Gemini/Google, dan Grok/xAI. Daftar versi serta tanggal rilis ada di references/model-coverage.md dan mencerminkan informasi yang diverifikasi sampai 27 September 2026; ketersediaan dapat berbeda menurut produk, paket, wilayah, atau tahap rollout.
Jangan menganggap satu model punya gaya tetap atau menerapkan stereotip provider. Untuk semua model, lakukan pemeriksaan editorial berikut sebagai heuristik, bukan klaim statistik: hapus basa-basi percakapan atau scaffolding penalaran yang bukan bagian dari hasil yang diminta; buang reassurance atau promosi otomatis dan gaya edgy/snark yang tidak diminta; periksa repetisi, transisi dan penutup formulaik; lalu ganti abstraksi kosong dengan fakta atau tindakan yang memang tersedia. Pertahankan fakta, kutipan, sumber, dan ketidakpastian nyata. Jangan mengarang pengalaman pribadi, angka, adegan, atau sumber demi membuat tulisan terasa spesifik. Ikuti format, audiens, dan register yang diminta pengguna.
Untuk detail model atau versi terbaru, lihat catatan cakupan model. Perilaku gaya model bisa berubah antarversi dan tidak bisa disimpulkan hanya dari nama providernya.
Pecah Sentence DNA Empat Bagian
Satu pola yang mudah terasa mekanis adalah selalu membuka dengan konteks, mengembangkan, menyisipkan kontras, lalu menutup dengan resolusi. Gunakan susunan itu jika membantu argumen; ubah jika berulang atau tidak sesuai isi. Tidak semua tulisan perlu kontras atau kesimpulan yang rapi.
Aturan Konten
Spesifisitas daripada Keumuman
Ganti setiap klaim generik dengan yang spesifik. "Banyak perusahaan" jadi "tiga startup di Jakarta Selatan". "Berbagai faktor" jadi faktor-faktor yang sebenarnya, disebutkan namanya. "Para ahli setuju" jadi orang spesifik yang ngomong itu, dengan namanya.
Jangan Atribusi Samar
Jangan pernah tulis "Para ahli berpendapat," "Pengamat mencatat," "Laporan industri menyarankan," "Menurut beberapa pihak," "Banyak yang percaya." Sebutkan sumber spesifik, atau hapus atribusi sepenuhnya.
Jangan Analisis Dangkal
Jangan pernah tempelin komentar analitis ke fakta yang nggak butuh. Data populasi nggak butuh "menciptakan komunitas yang hidup". Tanggal pendirian nggak butuh "menandai momen penting dalam sejarah". Nyatakan fakta. Biarin dia berdiri sendiri. Kalau pernyataan analitis bisa berlaku buat subjek apa pun, nggak ada gunanya. Hapus.
Jangan Pernyataan Warisan/Signifikansi yang Berlebihan
Jangan pernah tulis tentang gimana sesuatu "berkontribusi pada" apa pun secara luas. Jangan pernah nyatain bahwa sesuatu "mencerminkan tren yang lebih luas". Jangan pernah tegasin bahwa fakta biasa punya "warisan abadi". Kalau kepentingan ada, tunjukin lewat bukti spesifik, bukan lewat pernyataan.
Tunjukkan Pendapat Nyata
Sampaikan kesimpulan yang didukung bukti. Rangkum lebih dari satu sisi jika konteks membutuhkannya; jangan membuat keseimbangan palsu atau menghapus ketidakpastian yang relevan.
Tunjukkan Ketidakpastian yang Tulus Jika Sesuai
Ketika kamu nggak tahu sesuatu, bilang aja langsung. "Saya nggak yakin" atau "Saya nggak punya info cukup" nandain pemikiran yang jujur. Pakai penanda ketidakpastian dengan hemat tapi tulus, bukan sebagai penghindaran ("bisa jadi diargumentasikan bahwa") tapi sebagai kejujuran epistemik yang sebenarnya.
Suara dan Tekstur
Tambahkan Ketidaksempurnaan Manusiawi
Gunakan fragmen atau koreksi diri hanya bila sesuai dengan format dan suara penulis. Jangan mengarang kesalahan atau pengalaman pribadi untuk memberi kesan autentik.
Gunakan Pergeseran Register
Gunakan pergeseran register hanya bila cocok dengan audiens dan tujuan. Jangan menambahkan humor, slang, atau kesalahan sengaja sebagai tanda keaslian.
Referensikan Touchstone Spesifik
Sebutkan peristiwa nyata terkini, momen budaya pop yang spesifik, orang dan karya yang sebenernya. Bukan "perkembangan terkini di bidang ini". Pakai referensi budaya Indonesia: wayang, kuliner lokal, tradisi daerah, momen internet Indonesia yang viral.
Orang Pertama Jika Sesuai
Pakai "saya", "aku", atau "gw" sesuai konteks. Jangan menisbatkan pengalaman atau kenangan pribadi kepada penulis kecuali pengguna memang memberikannya.
Gunakan Partikel Wacana (Panduan Penggunaan)
Partikel wacana bisa membantu nada percakapan. Pakai sesuai tier dan konteks, tanpa kuota atau kewajiban menyisipkannya:
- Sih: penekanan lembut, kontradiksi ringan, pertanyaan retoris. "Nggak juga, sih." "Masa, sih?" "Bagus sih, tapi..."
- Dong: dorongan, harapan, permintaan. "Bantuin dong." "Jangan gitu dong."
- Deh: konsesi, penekanan ringan. "Iya deh." "Coba deh."
- Lho/Loh: kejutan, ketidakpercayaan. "Loh, kok bisa?" "Lho, serius?"
- Nih: penawaran, "ini" informal. "Nih, ambil aja." "Nih masalahnya..."
- Tuh: "itu" informal, menunjuk. "Tuh kan, bener." "Tuh udah dibilangin."
- Kan: konfirmasi, pengingat. "Kan udah dibilang." "Itu kan aneh."
- Kok: keheranan, "kenapa". "Kok gitu?" "Kok bisa?"
- Ya: persetujuan, pencarian konfirmasi. "Iya ya." "Gitu ya."
- Nah: penanda transisi, "nah begitu". "Nah, itu dia masalahnya."
- Lah: penekanan, pelembut. "Biasa lah." "Begitu lah."
- Mah: (Sunda/Jakarta) penekanan. "Gampang mah." "Kalau itu mah..."
Panduan per tier:
- Tier 1 (Formal): umumnya hindari partikel kecuali memang sesuai dengan suara penulis atau konteks kutipan.
- Tier 2 (Semi-formal): partikel boleh dipakai bila cocok dengan suara dan fungsi kalimat.
- Tier 3 (Informal): partikel boleh dipakai bila memang akan diucapkan penulis; tidak ada jumlah atau kuota per paragraf.
Sesuaikan Register Kata Ganti
Pilih kata ganti yang sesuai konteks dan hubungan penulis dengan pembaca.
- Formal: Anda, saya
- Semi-formal: kamu, saya/aku
- Informal: kamu, lo/lu, gue/gw/aku
- Akademis: merujuk diri sebagai "peneliti" atau "penulis", bukan "saya"
Cocokkan register yang diminta. Pilih kata ganti yang cocok dan pertahankan kecuali ada alasan untuk berganti.
Sesuaikan Ragam dengan Konteks
Untuk konteks santai, bentuk percakapan dapat cocok bagi audiens. Bentuk baku tetap boleh dipakai bila itulah suara penulis:
| Formal | Santai |
|---|---|
| tidak | nggak, gak, ga |
| sudah | udah |
| bagaimana | gimana |
| membuat | bikin |
| memang | emang |
| saja | aja |
| sangat | banget |
| dengan | sama (konteks tertentu) |
| ingin | pengen |
| ini | nih |
| itu | tuh |
| belum | belom |
| mengerti | ngerti |
| mencari | nyari |
| menonton | nonton |
Bentuk Percakapan dan Prefiks
Dalam ragam percakapan, beberapa kata berprefiks sering muncul dalam bentuk ringkas. Ini variasi pemakaian, bukan aturan untuk mengubah setiap kata atau alasan untuk mengubah suara penulis.
| Prefiks | Huruf awal | Nasal | Contoh formal → informal |
|---|---|---|---|
| meng- | vokal, g, h, k | ng- | mengambil → ngambil, mengerti → ngerti |
| men- | t, d, c, j | n-/ny- | menonton → nonton, mencari → nyari |
| mem- | b, p, f | m-/mb- | membantu → mbantu, membuat → mbuat |
| meny- | s | ny- | menyapu → nyapu, menyukai → nyukain |
Contoh variasi yang dapat dijumpai:
- mengerti → ngerti
- mencari → nyari
- menonton → nonton
- membuat → bikin/mbuat
- mengambil → ngambil
- membantu → mbantu/ngebantu
- menyapu → nyapu
- memukul → mukul
- mengirim → ngirim
Dalam percakapan santai, bentuk berprefiks dan bentuk ringkas sama-sama bisa muncul. Pilih yang alami untuk suara penulis dan konsisten seperlunya.
Gunakan Interjeksi Emosional
Interjeksi yang umum dalam percakapan Indonesia meliputi:
- Duh/Aduh: keluhan, rasa sakit, frustrasi
- Waduh: kaget, khawatir
- Astaga: terkejut
- Buset/Busyet: kaget (informal)
- Ih: jijik, terkejut ringan
- Hah: tidak percaya
- Wah: kagum
Integrasikan Ungkapan dan Idiom Indonesia
Pakai idiom Indonesia yang relevan buat nambah tekstur. Bukan semua, tapi sesekali:
- "Besar pasak daripada tiang": pengeluaran melebihi kemampuan
- "Tong kosong nyaring bunyinya": yang paling berisik belum tentu paling berisi
- "Habis manis sepah dibuang": dibuang setelah nggak berguna
- "Seperti katak dalam tempurung": berpikiran sempit
Gunakan ungkapan ini hanya bila sesuai dengan suara penulis dan situasi:
Campur Bahasa (Code-switching) Jika Sesuai
Orang Indonesia secara natural nyampurin bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, terutama dalam konteks bisnis, teknologi, dan percakapan anak muda:
- "Meeting-nya diundur ya"
- "Deadline-nya kapan?"
- "Gw udah submit, tinggal nunggu feedback"
- "Mindset-nya harus diubah"
Di tier informal, code-switching seperti "literally", "which is", "somehow", atau "basically" bisa cocok. Jangan paksakan bila tidak alami bagi audiens sasaran.
Aturan Anti-Translationese
Kalimat dapat terasa seperti terjemahan harfiah bila pilihan kata atau hubungan klausanya mengikuti susunan bahasa sumber. Periksa makna dan kelancaran dalam konteks Bahasa Indonesia; contoh di bawah adalah kemungkinan penyuntingan, bukan pola yang selalu salah atau ciri model.
TR-1. Pilih Aktif atau Pasif Berdasarkan Fokus
Bahasa Indonesia memakai konstruksi aktif dan beberapa konstruksi pasif. Pilih menurut fokus informasi, register, dan apakah pelaku perlu dipertahankan. Kata oleh tidak otomatis salah atau perlu dihapus.
Contoh buatan: "Keputusan itu dibuat oleh tim manajemen." → "Tim manajemen membuat keputusan itu." Perubahan ini mempertahankan pelaku dan tindakan; jika keputusan yang menjadi topik, pasifnya juga dapat dipertahankan.
TR-2. Topik dan Fokus Harus Tetap Jelas
Topik di awal kalimat dapat cocok dalam bahasa Indonesia, tetapi bukan kewajiban dan tidak boleh mengaburkan siapa melakukan apa. Jangan mengubah kalimat hanya agar tampak lebih lisan.
Contoh buatan: "Program ini memberi manfaat kepada warga." → "Warga mendapat manfaat dari program ini." Bentuk kedua menonjolkan warga, tetapi mempertahankan program sebagai sumber manfaat. Hindari "Kalau programnya, warga sudah merasakan manfaatnya" bila hubungan atau cakupan klaim berubah.
TR-3. Hilangkan Subjek Hanya Jika Rujukannya Pasti
Bahasa Indonesia membolehkan penghilangan subjek ketika konteksnya sudah jelas. Hilangkan subjek berulang bila rujukannya tidak membingungkan.
Penghilangan subjek mungkin wajar ketika pelaku tetap dapat dipulihkan dari konteks dan tidak ada pergantian pelaku. Jangan menghapus subjek yang memikul tanggung jawab, membedakan aktor, atau menjadi rujukan yang belum jelas.
Contoh buatan: "Rina membuka rapat. Rina menjelaskan anggaran." → "Rina membuka rapat lalu menjelaskan anggaran." Pelakunya tetap Rina. Jangan ringkas menjadi "Rapat dibuka. Anggaran dijelaskan" jika atribusi tindakan perlu dipertahankan.
TR-4. Jangan "Yang" Berlebihan
Rantai klausa dengan "yang" kadang membuat kalimat berat. Susun ulang jika maknanya tetap jelas tanpa klausa bertingkat.
Contoh buatan: "Warga yang tinggal di desa yang berada di kaki Merapi" → "Warga desa di kaki Merapi" hanya jika status tinggal dan lokasi memang sama-sama dimaksud. Jangan buang klausa relatif bila klausa itu membatasi kelompok atau menambahkan informasi penting.
Contoh buatan: "Strategi yang dipakai oleh perusahaan yang bergerak di bidang teknologi" → "Strategi yang dipakai perusahaan teknologi." Bentuk ringkas mempertahankan tindakan dan pelaku; jangan ubah menjadi "strategi perusahaan" jika informasi pemakaian atau bidangnya dibutuhkan.
Aturan: Kurangi rantai "yang" bila klausa bertingkat membuat kalimat sulit dibaca.
TR-5. Jangan "Adalah" Berlebihan
Bahasa Indonesia sering tidak membutuhkan kopula "adalah" jika hubungan antarkata sudah jelas.
"Adalah" dapat dipakai untuk kejelasan, penekanan, atau definisi; menghapusnya bukan sasaran tersendiri. Pertahankan kopula jika penghilangan membuat relasi atau batas kalimat rancu.
TR-6. Ejaan KBBI yang Konsisten
Perhatikan konsistensi ejaan. Dalam konteks informal, tentukan bentuk yang dipakai dan pertahankan:
- "praktek" vs "praktik" (KBBI: praktik)
- "kadaluarsa" vs "kedaluwarsa" (KBBI: kedaluwarsa)
- "aktifitas" vs "aktivitas" (KBBI: aktivitas)
- "nasehat" vs "nasihat" (KBBI: nasihat)
- "merubah" vs "mengubah" (KBBI: mengubah)
- "dikenakan" vs "dikenai" (tergantung konteks)
Aturan: Pakai ejaan KBBI secara konsisten untuk tulisan formal. Dalam konteks informal, pilih bentuk yang cocok dan gunakan dengan konsisten.
TR-7. Alur Retoris Menurut Tujuan
Tidak ada satu urutan retoris atau kadar hedging yang cocok untuk semua penulis Indonesia. Dahulukan klaim, kontekskan dulu, atau kembali ke gagasan sesuai genre, audiens, dan bahan. Pakai peribahasa hanya jika memang sesuai maksud dan suara penulis; jangan sisipkan sebagai penanda keaslian.
Validasi Editorial
Detektor AI memberi perkiraan dan bisa salah menilai tulisan manusia maupun tulisan berbantuan AI. Skor deteksi bukan bukti authorship dan hasilnya bisa berbeda antaralat, bahasa, serta jenis teks. Panduan ini tidak menjamin lolos deteksi.
Saat memeriksa draf, pastikan isinya akurat, sumber dan kutipannya bisa diverifikasi, register sesuai permintaan, dan tidak ada frasa pengisi atau pengulangan yang mengaburkan maksud. Jangan merusak tata bahasa atau menyisipkan kesalahan, slang, fragmen, atau pergantian register demi memengaruhi skor detektor. Ikuti kebijakan pengungkapan penggunaan AI yang berlaku untuk tugas atau publikasi tersebut.
Daftar Periksa Pasca-Penulisan
Setelah nyusun draf, jalanin daftar periksa ini:
Tier dan Tone:
- Konfirmasi tier yang dipilih (formal / semi-formal / informal) dan pastikan tulisan cocok dengan tier itu. Jangan berpindah register tanpa alasan.
Tanda Baca:
2. Tinjau dash (em — dan en –). Hindari secara default pada prosa baru, kecuali format, kutipan, atau permintaan pengguna membutuhkannya.
3. Tinjau titik koma dan gunakan hanya jika membantu pembaca memahami hubungan klausa.
Kosakata: 4. Cari setiap kata dalam daftar larangan, ganti atau hapus masing-masing. 5. Hapus semua contoh "berfungsi sebagai," "berperan sebagai," "adalah bukti dari," "menandai," "menyoroti pentingnya". 6. Hapus semua atribusi samar atau ganti dengan sumber yang disebutkan namanya. 7. Cari buzzword AI (inovasi, holistik, kolaboratif, ekosistem, paradigma, optimalisasi, berkelanjutan, sinergi, transformasi digital, lanskap), ganti dengan bahasa konkret.
Struktur: 8. Perhatikan beberapa kalimat berdekatan dengan ritme serupa. Variasikan hanya jika hasilnya terasa monoton. 9. Pastikan setiap butir daftar diperlukan dan sesuai isi. Jangan menambah atau menghapus butir demi jumlah tertentu. 10. Periksa pembuka. Kalau mulai dengan "Di era modern ini..." atau "Seiring perkembangan zaman..." tulis ulang dengan fakta spesifik. 11. Periksa kalimat terakhir setiap paragraf. Hapus pernyataan ulang jika tidak menambah informasi. 12. Periksa frasa partisipatif yang nempel di akhir kalimat, tulis ulang sebagai kalimat tersendiri atau hapus. 13. Periksa variasi tipe kalimat. Tambahkan pertanyaan atau perintah hanya jika cocok dengan tujuan dan format. 14. Verifikasi pembuka paragraf. Variasikan jika pola yang sama berulang dan perubahan membantu alur.
Suara: 15. Periksa register vs tier yang dipilih. Apakah konsisten? Terlalu formal buat blog? Terlalu santai buat laporan? 16. Baca seluruh tulisan dengan keras. Ritme AI yang canggung kedengeran dengan cara yang nggak keliatan di layar. 17. Periksa pergeseran register. Pertahankan hanya jika sesuai dengan suara penulis dan audiens.
Tambahan Khusus Indonesia: 18. Tinjau "merupakan" dan ganti bila bentuk lebih langsung memperjelas kalimat. 19. Hapus header bagian "Kesimpulan" otomatis kecuali format ngharusin. 20. Temuin setiap "tidak hanya...tetapi juga", pertahanin cuma ketika kontras diperlukan. 21. Periksa pembuka seperti "Di era" / "Seiring" / "Dalam konteks". Pertahankan bila konteks waktu atau latar memang dibutuhkan. 22. Temuin semua rantai nominalisasi (pe-/ke-an/-an), lebih suka bentuk kata kerja kalau kejelasan nambah. 23. Temuin semua "dapat dilihat bahwa" / "dapat dipahami bahwa", hapus dan nyatain faktanya. 24. Periksa register kata ganti. Apakah "Anda" cocok dengan nada yang dimaksud, atau harusnya "kamu"? Atau tier informal dan harusnya "lo/gw"? 25. Tinjau klausa relatif "di mana" dan susun ulang bila terdengar seperti terjemahan harfiah. 26. Periksa partikel wacana. Gunakan bila cocok dengan tier; jangan menambahkan partikel sebagai kuota. 27. Periksa penggunaan prefiks agar sesuai dengan register dan suara yang diminta. 28. Tinjau pasangan seperti "tantangan dan peluang" / "di satu sisi... di sisi lain..." jika muncul berulang atau mengaburkan poin.
Anti-Translationese: 29. Tinjau pemakaian "oleh" dan hilangkan jika pelaku tidak perlu disebut. 30. Cari rantai "yang" dan susun ulang bila kalimat menjadi sulit dibaca. 31. Periksa subjek berulang dan hilangkan yang tidak diperlukan bila rujukan tetap jelas. 32. Cari "adalah" berlebihan, hilangkan kalau konteks udah jelas tanpa kopula. 33. Tinjau struktur topik-komentar jika sesuai dengan register dan membantu fokus. Jangan mengubah susunan hanya untuk mencapai variasi. 34. Periksa alur gagasan. Kembali ke poin sebelumnya hanya jika membantu penjelasan, bukan sekadar untuk membuat struktur terasa berbeda. 35. Periksa ulang akurasi semantik. Pastikan setiap penggantian mempertahanin makna asli.
Pemeriksaan akhir versi 4.1:
36. Pastikan tidak ada scaffolding chat atau uraian proses berpikir yang bukan bagian dari hasil yang diminta.
37. Hapus reassurance, pujian, promosi, atau nada edgy yang muncul otomatis dan tidak diminta.
38. Pastikan fakta, kutipan, tautan, dan atribusi benar; jangan mengarang pengalaman, data, atau sumber.
39. Tinjau repetisi kata/frasa, pembuka kalimat, pola daftar, transisi, dan penutup. Variasikan hanya bila hasilnya lebih jelas dan sesuai suara yang diminta.
40. Pertahankan ketidakpastian yang nyata; jangan mengubah dugaan menjadi fakta atau menghapus kualifikasi yang penting.
41. Untuk penyuntingan tata bahasa, buka references/language-editing.md; periksa subjek-predikat, rujukan, lingkup negasi/modalitas, dan paralelisme sebelum merapikan gaya.
42. Pastikan format dan register sesuai permintaan. Bahasa Indonesia harus terdengar alami, bukan terjemahan harfiah dari Inggris.
Terakhir Diperbarui: 27 September 2026 (v4.1) Changelog v4.1: Menambahkan rute pemeriksaan bahasa Indonesia dengan contoh buatan dan rujukan EYD V; memperbaiki panduan yang dapat menghapus pelaku atau mengubah makna; menjadikan daftar gaya pemicu kontekstual. Changelog v4.0: Cakupan model diperbarui untuk OpenAI, Anthropic, Google, dan xAI. Klaim sidik jari tanpa bukti yang dapat diperiksa diganti dengan pemeriksaan editorial yang jelas berstatus heuristik; panduan deteksi dan instruksi agar tulisan tampak sengaja tidak sempurna dihapus.